Potensi Pabrik Gula Berbasis Tebu

Pabrik gula berbasis tebu mengolah bahan baku tananaman tebu yang dibudidayakan di lahan atau kebun tebu. Gula kristal putih yang kita konsumsi sehari hari merupakan senyawa sukrosa yang dihasilkan oleh tanaman tebu. Paling tidak secara sederhana terdapat 3 senyawa utama gula dari tanaman tebu yaitu: sukrosa, glukosa dan fruktosa. Adapaun secara alami hanya sukrosa yang dapat diambil dalam bentuk kristal dengan proses pengolahan/pabrikasi di pabrik gula pada umumnya, selain sukrosa akan terbawa ke produk samping berupa tetes (final molasses). Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa sebenarnya pabrik gula adalah satu kesatuan sistem terintegrasi mulai dari tanam tebu di kebun hingga diperoleh gula produk dalam bentuk kristal dimana proses antara dari kebun hingga produk gula kristal (tebang, muat, angkut dan pengolahan) merupakan upaya untuk mengambil sukrosa sebanyak-banyaknya dari batang tebu dan meminimalkan terjadinya kehilangan sukrosa selama proses tersebut.

Dari gambaran diatas dapat dilihat bahwa setidaknya terdapat 3 tahapan penting dalam proses produksi gula kristal dari tebu yaitu proses tanam tebu, proses tebang-muat-angkut dan proses pabrikasi/pengolahan. Tanaman tebu memiliki potensi yang luar biasa, dari gambar diatas dapat dilihat bahwa terdapat minimal 4 potensi dari proses produksi gula kristal dari tebu yaitu:

  • Produk utama berupa gula kristal dengan potensi 5-13% (rendemen), gula yang dihasilkan dapat berupa gula kristal maupun dalam bentuk cair (liquid sugar), baik gula kristal maupun cair dapat dibuat dengan kualitas warna (ICUMSA) putih, merah atau coklat.
  • Produk samping berupa ampas dengan potensi 20-32% yang dapat digunakan sebagai bahan bakar utama dalam membangkitkan uap dan listrik untuk mengoperasikan pabrik, potensi persen ampas yang dihasilkan sangat tergantung dari kualitas kandungan sabut tebu, semakin tinggi sabut tebu maka semakin tinggi pula potensi ampasnya, sisa kelebihan ampas setelah digunakan untuk membangkitkan uap dan listrik tergantung dari efisiensi pembakaran di boiler dan efisiensi pemakaian uap di dalam pabrik, sisa ampas dapat dijual langsung sebagai ampas atau dibakar diboiler untuk membangkitkan uap dan menggerakkan turbin generator listrik dan dijual dalam bentuk energi listrik.
  • Produk samping berupa tetes (final molasses) dengan potensi 3-5%, tetes dapat dijual langsung atau diolah sendiri untuk menghasilkan etanol dengan kualitas bahan bakar (fuel grade) atau kualitas bahan makanan (food grade), tetes juga dapat digunakan sebagai bahan pembuat kecap, penyedap rasa hingga pupuk cair.
  • Produk samping berupa blotong (filter cake) dengan potensi 4-5%, blotong diolah terlebih dahulu menjadi pupuk kompos dan dikembalikan di lahan untuk mengembalikan senyawa organik yang dibutuhkan tanah yang baik untuk budidaya tebu, dengan demikian dapat mengurangi kebutuhan pupuk anorganik yang harus beli dari luar.

Dengan potensi yang luar biasa tersebut diatas seharusnya pabrik gula merupakan industri yang menguntungkan apabila dapat memanfaatkan semaksimal mungkin dari potensi produk dari tebu yang tidak hanya berupa gula saja. Sasaran akhir dari pembangunan suatu pabrik gula memang seharusnya menjadi pabrik gula yang terintegrasi dengan unit pengolahan tetes menjadi etanol, unit pembangkit (cogen) untuk menjual listrik hingga unit pengolahan blotong untuk mengolahnya menjadi pupuk organik dan dikembalikan ke lahan. Pabrik gula yang sudah terintegrasi tersebut biasanya disebut dengan “sugar complex dimana bahan baku tebu masuk diolah hingga produk akhir semua yang berupa gula, listrik, etanol dan pupuk organik. Sisa ampas selain dikonversi dan dijual dalam bentuk listrik dapat juga digunakan untuk produksi papan particle board, pellet atau produk lain yang berbahan baku sabut.

Namun hingga saat ini belum ada pabrik gula sugar complex yang ada di Indonesia. Untuk membangun pabrik gula hingga menjadi sugar complex tentunya membutuhkan perencanaan yang matang dan detail dimulai dari perencanaan jumlah dan kualitas bahan baku tebu, desain pabrik yang efisien dan sumber daya manusia dengan pengetahuan dan kemampuan yang memadai serta manajemen perusahaan yang memenuhi prinsip-prinsip GCG (Good Corporate Governance), karena proses pembangunan pabrik gula hingga menjadi sugar complex tentunya tidak dapat selesai dalam 2-3 tahun, namun bisa sampai hingga 10 tahun atau lebih sehingga diperlukan adanya budaya continuous improvement dari tahun ke tahun yang sesuai dengan grand design yang mengarah pada pembangunan sugar complex.

Konsep sugar complex merupakan konsep yang selaras dengan konsep zero waste dari pabrik gula sebagai berikut:

Zero Waste Sugar Complex Concept

Diskusi topik ini dapat dilakukan disini: Facebook / Linkedin / Twitter / Tumblr

Share this article:
Loading

SENDING

Your message was sent successful. Thanks.

Don't wait until tomorrow. Talk to one of our consultants today and learn how to start leveraging your business.

Kami membutuhkan beberapa informasi penting untuk lebih memahami bagaimana kami dapat membantu Anda dengan cara terbaik.

Tell us a little about the project you need to create. This is valuable so that we can direct you to the ideal team.

  • Identitas Anda
  • Perkiraan Budget
  • Service Setup
error: Alert: Content is protected !!