Potensi Kelebihan Listrik Pabrik Gula Tebu

Berbicara mengenai potensi listrik di pabrik gula (PG) tidak lepas dari potensi ampas dari bahan baku tebu (BBT) yang akan digiling. Potensi ampas dari BBT sangat tergantung pada kadar sabut (fiber) dari tebu (% sabut tebu) seperti yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya. Kadar sabut dari tebu dimulai dari varietas tebu dan budidaya tebu mulai dari pembibitan hingga matang atau siap digiling. Dalam artikel ini akan kita bahas gambaran potensi listrik dari pabrik gula dari sistim kogenerasinya yang dapat dijual sebagai pendapatan tambahan dari proses produksi gula dari tebu sekaligus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan bauran sumber energi nasional yang berasal dari energi terbarukan.

Bagan Gambaran Sumber, Pemakaian dan Kelebihan Energi di Pabrik Gula

Berdasarkan gambar diatas dapat kita lihat bahwa potensi kelebihan energi dari PG dapat berupa ampas saja yang langsung dijual atau ampas yang sudah dikonversi menjadi listrik dan dijual dalam bentuk listrik. Potensi kelebihan listrik dari PG dapat dengan mudah untuk diperkirakan. Secara garis besar, potensi listrik dari pabrik gula berbasis tebu akan ditentukan oleh beberapa hal sebagai berikut:

  • Kapasitas giling;
    Semakin besar kapasitas giling tentunya akan semakin besar juga potensi kelebihan listrik yang bisa dijual dari pabrik gula.
  • Kadar sabut (fiber) dari tebu yang digiling;
    Semakin tinggi sabut maka semakin tinggi potensi ampas dihasilkan. Standar kadar sabut tebu digiling seharusnya berkisar 13–15%. Rasio ampas dihasilkan berdasarkan kadar sabut tebu adalah sekitar 2.
  • Efisiensi pemakaian energi yang diwakili dengan uap % tebu total;
    Semakin rendah uap % tebu berarti PG semakin efisien dalam penggunaan energi uap dan listrik untuk proses produksi. Uap % tebu total adalah persen total uap dibangkitkan dibagi dengan tebu diproses. Uap % tebu total terendah yang mungkin dicapai PG hingga saat ini adalah sekitar 40%.
  • Efisiensi pembangkitan uap oleh boiler yang diwakili dengan rasio uap-ampas;
    Semakin tinggi rasio uap-ampas berarti boiler semakin efisien. Rasio uap-ampas adalah ton uap yang dapat dibangkitkan boiler tiap ton ampas dibakar. Rasio uap-ampas standar boiler adalah 2–2,4 tergantung desain dan dengan syarat ampas yang dihasilkan dari stasiun gilingan juga standar yaitu kadar air (moisture) ampas maksimal 50%.
  • Efisiensi pembangkitan listrik oleh steam turbine generator (STG) yang diwakili dengan SSC (Specific Steam Consumption);
    Semakin kecil SSC dari STG maka jumlah listrik dihasilkan semakin besar. SSC dengan satuan kg/kWh adalah jumlah listrik (kW) yang dapat dihasilkan oleh generator tiap kg per jam (kg/h) uap yang dikonsumsi oleh turbin. SSC terendah dari STG yang ada hingga saat ini dapat mencapai 5 kg/kWh.  

Berikut kita simulasi potensi listrik dari kelebihan ampas PG dengan kapasitas 4000 TCD dengan asumsi angka-angka standar terbaik yang masih mungkin dicapai.

Dari hasil simulasi perhitungan diatas dapat dilihat bahwa untuk PG dengan kapasitas 4000 TCD memiliki potensi kelebihan listrik hingga lebih dari 8 MW bila menggunakan STG dengan SSC 5 kg/kWh. Namun demikian SSC 5 kg/kWh dapat dicapai bila tekanan operasi atau tekanan uap masuk adalah 110 bar, artinya bila menginginkan SSC turbin yang semakin kecil maka harus menggunakan boiler dengan tekanan yang semakin tinggi, itulah kenapa PG-PG di India berlomba-lomba menggunakan boiler bertekanan tinggi bahkan hingga diatas 100 bar karena ingin mengoptimalkan produksi listrik mereka.

Sebagai gambaran potensi pendapatan dari listrik, misalkan PG 4000 TCD mampu mengekspor listrik dari kelebihan ampasnya sebesar 4 MW (4000 kW) selama 100 hari dengan harga listrik adalah Rp 1.100/kWh (kilo watt jam), maka potensi pendapatan tambahan PG tersebut dari produksi listrik adalah 4000 kW x 24 jam x 100 hari x Rp 1.100/kWh = Rp 10.560.000.000,- (> Rp 10,5 Milyar).


Diskusi topik ini dapat dilakukan disini: Facebook / Linkedin / Twitter / Tumblr

Anda bisa melakukan simulasi sendiri potensi listrik dan potensi pendapatan tambahan PG dari jual listrik dengan mengunjungi halaman ini (klik link)

Share this article:

1 Comment

  1. Evaporator Pabrik Gula Tebu dan Level Efisiensi Energi – SucroTech.Com

    March 9, 2021 at 02:34

    […] Pada umumnya, level efisiensi energi suatu pabrik gula dapat dilihat pada seberapa besar jumlah sisa ampas yang dapat dikumpulkan dengan ketentuan bahwa seluruh kebutuhan energinya (uap dan listrik) sudah terpenuhi dari ampasnya sendiri. Di negara dengan industri gula yang sudah maju, semakin efisien pabrik gulanya maka semakin besar energi listrik yang dapat dihasilkan dan dijual dari sisa ampas tebunya. […]

Comments are closed.

Loading

SENDING

Your message was sent successful. Thanks.

REFRESH

Don't wait until tomorrow. Talk to one of our consultants today and learn how to start leveraging your business.

Kami membutuhkan beberapa informasi penting untuk lebih memahami bagaimana kami dapat membantu Anda dengan cara terbaik.

Tell us a little about the project you need to create. This is valuable so that we can direct you to the ideal team.

  • Identitas Anda
  • Perkiraan Budget
  • Service Setup
error: Alert: Content is protected !!